Minggu, 27 Januari 2019

Yen Minggu Turu
Oleh: Ajun Pujang Anom
sumber: javanist.com

Ada yang bilang, saat Minggu itu guru baru bisa tidur. Kok bisa? Maksudnya gimana? Mungkin ada yang bertanya-tanya seperti itu.

Dalam Bahasa Jawa atau lebih tepatnya Basa Jawa, ada materi yang disebut dengan kerata basa. Kerata basa mempunyai arti memahami asal-usul sebuah kata secara ringkas. Sehingga kerata basa disebut juga dengan jarwa dhosok atau paparan pendek.

Kerata basa ini sendiri berasal dari kemampuan kultur orang Jawa, yang suka mengkait-kaitkan suatu hal tertentu dengan hal lainnya. Yang terkadang seperti rasionalitas yang dipaksakan. Meskipun terkesan begitu, sesungguhnya hal ini menyiratkan nuansa filosofi yang mendalam.

Kemampuan ini disebut dengan othak-athik gathuk (dicocok-cocokkan agar pas). Dan dari inilah, Pak Habibie pernah memunculkan konsep link and match (padu-padan).

Othak-athik gathuk tidak disediakan untuk bahasan tertentu, namun lebih ke arah lintas sektoral. Tentu saja di dalamnya ada persoalan kebahasaan.

Seperti terkait dengan judul tulisan ini yang berbunyi "Yen Minggu Turu". Yang sesungguhnya merupakan terapan dari kerata basa tadi. "Yen Minggu Turu", bisa dianggap kepanjangan dari kata "Guru". Sama seperti "digugu lan ditiru".

Namun sebenarnya apakah tepat, bila dikatakan pada hari Minggu, guru bisa tidur? Hal ini tidak harus dipahami secara harfiah atau letterlijk. Sebab tadi dikatakan ada nuansa filosofi. Maka hal itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang simbolis.

Sehingga hari Minggu ini bisa dimaknai sebagai hari dimana guru jeda sejenak dari aktivitas selama sepekan. Atau minimal adalah waktu untuk sedikit bernapas lega.

Bojonegoro, 27 Januari 2019

2 komentar:

Ajun Pujang Anom mengatakan...

:12

Ajun Pujang Anom mengatakan...

:14

:12 :13
:14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21
:22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29
:30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37
:38 :39 :40 :41
:42 :43 :44 :45
:46 :47 :48 :49
:50 :51 :52 :53
:54 :55 :56 :57

Posting Komentar